Yang ingin saya soroti adalah statement Bapak yang mengatakan bahwa BUKAN TKW… BUKAN TERORIS… Jujur Bapak, kalimat Bapak sangat tidak enak kami dengarkan.
Apabila Bapak merasa bahwa SOP yang dilakukan oleh DKK tidak tepat, saya rasa Bapak bisa mengatakannya dengan baik tanpa harus teriak teriak dan tanpa harus menyebut profesi kami.
Apa yang salah dengan TKW??? Begitu burukkah TKW dimata Bapak? Sehingga Bapak telah mendeskreditkan dan mendiskriminasikan TKW sedemikian rupa? Bahkan Bapak samakan kami dengan TERORIS…!! Sehingga menurut Bapak, yang wajib dicek hanya TKI dan Teroris saja sedangkan Bapak tidak perlu…!!
Bapak yang terhormat, mungkin Bapak lupa kalau Bapak dipilih oleh rakyat, dan bekerja untuk rakyat Bahkan digaji oleh rakyat. Dan di antara rakyat yang memilih Bapak kemungkinan ada yang berprofesi sebagai TKW. Setega itukah Bapak kepada kami????
TKW yang mungkin dalam mind set Bapak begitu rendah, yang Bapak identikkan dengan kaum sudra, orang tak berpendidikan, kaum gembala dan smua konotasi buruk lainnya…tapi Bapak lupa bahwa kami adalah PAHLAWAN DEVISA…penghasil devisa terbesar kedua setelah migas…
Bapak mungkin juga lupa bahwa dari devisa kami, mungkin di sana ada anggaran untuk gaji Bapak sehingga Bapak bisa menafkahi keluarga Bapak dengan layak Bahkan mungkin mewah. Hal yang bertolak belakang dengan kondisi kami sendiri. Tapi kami tak mengeluh pak karena kami sadar bahwa Tuhan berikan rejeki tidak pernah tertukar.
Mungkin Bapak juga lupa bahwa devisa kami mungkin saja digunakan oleh negara melalui APBDnya untuk pembangunan infrastruktur yang mungkin juga setiap hari Bapak gunakan, inftrastruktur yang kami sendiri hampir tak pernah menikmatinya. Tapi sekali lagi kami tak berkecil hati pak.
Bapak yang terhormat, cobalah Bapak buka sedikit saja naluri Bapak, apa yang salah dengan TKW??? Kami di sini bekerja dengan penuh was was memikirkan kondisi keluarga kami di kampung, mengingat Covid 19 sudah mulai masuk ke kampung kampung. Sementara kami sendiri juga berjibaku dengan virus yang sama.
Bapak yang terhormat… Covid 19 tidak memilih pada siapa dia akan menyerang. Tak peduli TKW, Teroris, rakyat jelata, Bahkan WaliKota dan Menteri pun bisa terinfeksi. Marilah Pak, buang pemikiran “kolot” Bapak bahwa Bapak bisa “kebal” terhadap Covid 19.
Bapak adalah panutan masyarakat, cobalah berikan contoh yang baik kepada warga Bapak. Apa yang akan terjadi pada keluarga Bapak, sanak saudara Bapak, tetangga Bapak, warga Blora dan warga Indonesia apabila salah satu dari rombongan Bapak atau mungkin anak istri dan keluarga yang “ikut” dalam rombongan kunjungan kerja tersebut (saya di sini tidak paham apakah ada SOP yang menyatakan bahwa KunKer boleh diikuti oleh keluarga) ternyata terinfeksi?????
Tampilkan Semua
