“Dari 9 Nilai utama gusdur di dalamnya terkait NKRI, Bhineka Tunggal Ika. Maka munculah gusdurian dan inilah praktiknya.” Jelas Haji Murtado.
Selanjutnya dari Ketua Perwakilan Anak Cabang (Pac) Ansor Majenang, Sutan Bazari mengatakan. Bahwa kehadirannya tersebut adalah suatu panggilan dalam jiwa.
“Kami merasa terpanggil untuk hadir, dan ini adalah panggilan dalam jiwa kami. Bahwasanya inilah bangsa indonesia yang merupakan satu kesatuan.” Katanya.
Sutan menilai, kebersamaan dan pebedaan akan memunculkan kedamaian dan tentunya hal tersebut yang harus dijaga karena begitu penting.
“Pada siang hari ini sebenarnya adalah ciri khas bangsa indonesia, dimana terjalin kedamaian dalam keragaman.” Imbuhnya.
Sebagai ketua Pac GP Ansor Majenang ia juga menyatakan sikap terkait fenomena pengkafiran. Yaitu atas ketidaksukaan kelompok tertentu dengan kerukunan yang terjalin antara umat beragama.
“Bagi kami, ranah pelabelan dan menghukumi orang dengan kata kafir itu kan manusia yang mengatakan. Sedang Tuhan yang berhak menentukan kafir atau tidaknya seseorang.” Ungkap Sutan.
Selanjutnya, Gus Sadiduddin Subhi menerangkan bahwa. Kita memang dari Nahdlatul Ulama (NU) dan terlahir dari NU, namun kami melepas sekat-sekat keorganisasian untuk Kemanusiaan.
“Kemanusiaan adalah wujud Kasih Sayang dapat memperkokoh Persatuan dan Kesatuan. Inilah harapan kami,” Ucap Gus Sadid.
Gus Sadid menambahkan, bahwa jauh sebelum adanya film “The Santri” Gusdurian sering mengadakan kegiatan seperti itu. Tujuannya tidak lain adalah kemanusiaan. “Jauh sebelum adanya Film The Santri, kami sudah melakukan hal serupa, tidak lain untuk persatuan dan kesatuan.” terangnya.
9 Tumpeng Mewarnai HUT Gereja Theresia Majenang
Usai acara lintas agama ternyata Gereja Theresia masih mempunyai agenda, yakni HUT Gereja Theresia yang ke-9.
Usai maghrib, sahabat Banser, Ansor dan juga Gusdurian menunaikan salat, mereka kemudian menuju gereja. Mereka membawa 9 tumpeng.
Sembilan tumpeng putih mewarnai Hari Ulang Tahun (HUT) Gereja Paroki Theresia Majenang.
Menurut Gus Sadiduddin Subhi, Tumpeng berwarna putih itu memiliki sebuah arti dan makna. Yakni Nasi berasal dari Padi dan Putih bisa dari Beras dan Kapas. Dimana itu semua mencerminian apa yang ada di dalam pancasila.
“Jadi, maknanya ada di sila ke-lima yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sedangkan lambangnya adalah Padi dan kapas, dimana padi adalah pangan yang merupakan kebutuhan manusia. Sedangkan Kapuk merupakan sandang. Jika diartikan, hal ini berarti jalan untuk mencapai kemakmuran.” Jelas Gus Sadid.
Tampilkan Semua
